Sabtu, 02 Juni 2012

TAEKWONDO


Taekwondo sebagai seni atau cara mendisiplinkan diri/seni bela diri yang menggunakan kaki dan tangan kosong. Jika ditinjau berdasarkan arti tiap kata seperti berikut: kata tae artinya kaki/menghancurkan dengan teknik tendangan, kata kwon artinya tangan/menghantam dan mempertahankan diri dengan teknik tangan, serta kata do artinya seni/cara mendisiplinkan diri. Menurut Jean Claude Corbeil dan Ariane Archambault dalam Visual Dictionary, taekwondo dapat dikelompokkan dalam combat sport atau olahraga beladiri.
Sejarah taekwondo, perjalanan taekwondo dari negeri asalnya, Korea, sudah dimulai sebelum 2000 tahun yang lalu, dengan berbagai nama dan aliran beladiri yang akhirnya baru dapat disatukan menjadi taekwondo sejak tahun 1954, setelah mengalami berbagai modifikasi dan penyempurnaan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Di Korea pada masa kuno, ada beladiri yang dianggap sebagai cikal bakal beladiri taekwondo yang disebut subak, taekkyon, takkyon. Pada masa pertengahan, saat dinasti Koryo berkuasa, abad X- XIV, perkembangan jenis beladiri ini mengalami surut karena mulai dikenal mesiu dan penggunaan senjata api. Tahun 1961 namanya berubah menjadi Taesoodo, tetapi beberapa tahun kemudian kembali ke nama semula, dan tahun 1965 berdiri organisasi nasional dengan nama Korea Taekwondo Association (KTA). Pada tahun 1973 berdiri The World Taekwondo Federation (WTF), dan tahun 1998 dengan salah satu tujuan untuk mengembangkan cabang ini lebih mendunia didirikanlah Taekwondo Academy.
Di Indonesia beladiri asal Korea ini mulai dikenal dan berkembang tahun 1970an, ditandai dengan berdirinya dua organisasi yang sama-sama mengklaim sebagai organisasi taekwondo nasional, yaitu Persatuan Taekwondo Indonesia (PTI) dan Federasi Taekwondo Indonesia (FTI). Barulah pada tahun 1981 ‘perseteruan’ (dalam tanda petik) tersebut dapat diselesaikan dengan disatukannya dua organisasi taekwondo tersebut menjadi satu wadah yakni Taekwondo Indonesia (TI) yang secara organisatoris berada di bawah WTF.
Teknik-teknik dalam taekwondo terdiri atas beberapa komponen dasar, yaitu: kepalan (Jumeok), sikap kuda-kuda (seogi), teknik serangan (kongkyok kisul) yang terdiri dari: pukulan (jierugi), sabetan (chigi), tusukan (chireugi), dan tendangan (chagi), kemudian teknik bertahan/menangkis (makki) serta jurus atau teknik rangkaian gerakan dasar (poomse).
Sikap kuda-kuda atau seogi, dibagi tiga yaitu: sikap kuda-kuda terbuka, tertutup, dan sikap kuda-kuda khusus.
Pukulan atau jierugi, terdiri atas beberapa macam yaitu: pukulan lurus ke depan, lurus ke samping, ke arah rahang sambil menarik, pukulan ganda mengait ke atas.
Sabetan atau chigi terdiri atas beberapa macam, yaitu: tunggal dengan pisau tangan, dari luar ke dalam, dari atas ke bawah dengan bantalan kepalan bagian ruas kelingking, depan menggunakan bonggol atas kepalan dengan sasaran atas, memutar dengan siku, sikutangan dengan sasaran terpegang, menggunakan lutut, dari dalam ke luar dengan menggunakan bonggol atas kepalan.
Tusukan atau chireugi, terdiri atas beberapa macam yaitu: dengan telapak tangan tegak, dengan dua ujung jari ke arah mata.
Tendangan atau chagi, terdiri atas beberapa macam yaitu: tendangan depan, serong/memutar, samping, belakang, menurun/mencangkul, twio yeop chagi, dwi huryeo chagi, dubal dangsang chagi, twio ap chagi, dan twio dwi chagi.
Tangkisan atau makki, terdiri atas beberapa macam yaitu: ke bawah, ke atas, ke tengah dari luar ke dalam, ke tengah dari dalam ke luar, ke tengah dengan pisau tangan, ke tengah dari luar dengan bantalan telapak tangan, menggunting, melintir dengan satu pisau tangan, tangkisan ganda ke luar, silang ke arah bawah, ganda memotong arah bawah dan ke luar.
Sedangkan Poomse atau rangkaian jurus merupakan salah satu (dari tiga) pelajaran pokok bagi seseorang yang mempelajari taekwondo, dan menjadi materi wajib dalam ujian kenaikan tingkat sampai dengan sabuk hitam. Dua pelajaran lain yang dimaksud adalah kyukpa atau teknik pemecahan benda keras, dan kyoruki atau pertarungan.
Poomse yang artinya rangkaian gerakan dasar dalam taekwondo, terdiri dari : Tae Geuk yang berjumlah 8 Jang (poomse untuk sabuk putih sampai dengan sabuk merah) dan poomse untuk sabuk hitam yang terdiri dari Koryo, Keumgang, Taebaek, Pyongwon, Sipjin, Jitae, Cheonkwon, Hansoo, dan Ilyo
Delapan Jang pada poomse tae geuk berdasarkan filosofi timur mewakili karakter manusia serta unsur-unsur yang ada di alam semesta. Tae geuk 1 sampai 8, secara berturutan menerapkan prinsip: keon, tae, ri, jin, seon, gam, gan, serta gon. Dalam Tae geuk mengikuti hukum alam, yaitu Um-Yang, mirip dengan konsep hukum keseimbangan yang berkembang di Cina, Ying-Yang. Konsep yang berdasar pada kesimbangan alam semacam ini juga berkembang dengan baik di sebagian bangsa-bangsa Timur, khususnya yang telah memiliki budaya cukup maju.
Poomse tae geuk, mulai dari 1 Jang sampai dengan 8 Jang, masing-masing terdiri dari banyak poom yang jumlahnya bervariasi antara 18 sampai 27 poom. Secara rinci masing-masing tae geuk jang adalah sebagai berikut: Tae geuk 1 Jang terdiri dari 18 poom, Tae geuk 2 Jang ada 18 poom, Tae geuk 3 Jang ada 20 poom, Tae geuk 4 Jang ada 20 poom, Tae geuk 5 Jang ada 20 poom, Tae geuk 6 Jang ada 19 poom, Tae geuk 7 Jang ada 25 poom, serta Tae geuk 8 Jang ada 27 poom.
Selain itu ada juga poomse yang harus dikuasai oleh para pemegang sabuk hitam,  dimulai dari Koryo (untuk Untuk pemegang sabuk hitam Dan I), Keumgang (Untuk pemegang sabuk hitam Dan II), Taebaek (Untuk pemegang sabuk hitam Dan III), Pyongwon (Untuk pemegang sabuk hitam Dan IV), Sipjin (Untuk pemegang sabuk hitam Dan V), Jitae (Untuk pemegang sabuk hitam Dan VI), Cheonkwon (Untuk pemegang sabuk hitam Dan VII), Hansoo (Untuk pemegang sabuk hitam Dan VIII), Ilyo (Untuk pemegang sabuk hitam Dan IX).
Arti pola dari Koryo (Korea) adalah nama sebuah Dinasti Korea tua. Orang-orang dari masa Koryo-Mongolia mengalahkan agresor. Semangat mereka tercermin dalam gerakan Poomse Koryo. Setiap gerakan Poomse ini mewakili kekuatan dan energi yang diperlukan untuk mengendalikan Mongol.
Definisi Keumgang adalah “Terlalu kuat untuk dilanggar”, atau “berlian”. Pergerakan poomse adalah Keumgang seindah Keumgang-san (a Korea pegunungan) dan sekuat Keumgang-seok (intan).
Arti pola dari Taebaek adalah legendaris ‘Dangoon’ mendirikan sebuah bangsa di Taebaek, dekat gunung terbesar Korea Baekdoo. Baekdoo adalah simbol untuk Korea. Definisi Taebaek adalah “ringan”. Setiap gerakan poomse ini tidak hanya harus tepat dan cepat, namun dengan tekad dan kekerasan
Pyongwon berarti sebuah dataran yang terbentang luas. Ini adalah sumber kehidupan untuk semua makhluk dan lapangan di mana manusia menjalani kehidupan.poomsae pyongwon yang didasarkan pada gagasan perdamaian dan perjuangan yang dihasilkan dari prinsip-prinsip asal-usul dan penggunaan. Teknik-teknik baru yang diperkenalkan dalam poomsae ini adalah palkup ollyochigi, olgul 
kodureo yop-makki, dangkyo teokchigi, meongyechigi, hechosanteulmakki
, dll. Junbiseogi adalah moaseogi wenkyopson (tangan kiri berpangku di atas tangan kanan), yang membutuhkan kekuatan konsentrasi di perut bagian bawah, sumber kekuatan tubuh, seperti tanah adalah awal dan sumber kehidupan manusia. Garis poomsae berarti asal-usul dan transformasi dataran.
Kata “Sipjin” berasal dari pikiran dari 10 umur panjang, yang mana para pendukung ada sepuluh makhluk hidup ber-umur panjang, yaitu, matahari, bulan, gunung, air, batu, pohon cemara, ramuan pemuda yang kekal, kura-kura, rusa dan burung bangau. Mereka adalah dua benda-benda langit, 3 sumber daya alam, dua tumbuhan dan 3 hewan, semua memberikan iman, pengharapan dan kasih manusia. Poomsae Sipjin melambangkan hal-hal itu. Teknik-teknik baru yang diperkenalkan di poomsae ini hwangso-Makki, sonbadak kodureo Makki, bawimilgi (mendorong karang), sonnaldeung hechomakki momtong, kklyeolligi (mengangkat), chetdarijireugi (jireugi berbentuk garpu), araemakki otkereo sonnal, sonnaldeung momtongmakki, yang berjumlah 10. Huruf Cina berarti sepuluh adalah bentuk garis poomsae, yang berarti suatu penomoran yang tak terbatas dari sistem desimal dan pengembangan terus-menerus.
Kata “Jitae” berarti seorang pria yang berdiri di tanah dengan kedua kaki, memandang ke langit. Seorang pria di bumi merupakan cara berjuang untuk kehidupan manusia, seperti menendang, menginjak dan melompat di atas tanah. Oleh karena itu, poomsae melambangkan berbagai aspek yang terjadi dalam program perjuangan manusia untuk eksistensi. Teknik-teknik baru yang diperkenalkan di poomsae ini hansonnal olgul-makki, keumgang momtong-jireugi, anpalmok kodureo makki dan meJumeok yop pyojeok-chigi saja, dan garis poomsae menandakan seorang pria yang berdiri di bumi untuk bertumbuh ke arah langit.
Cheonkwon berarti ‘langit’. Langit seharusnya dilihat sebagai penguasa alam semesta. Misterius, tak terbatas dan mendalam. Gerakan Cheonkwon penuh kesalehan dan vitalitas.
Poomse Hansoo berasal dari fluiditas air yang mudah beradaptasi di dalam alam.
Negara budidaya spiritual dalam Buddhisme disebut ‘Ilyo’ yang berarti ‘kesatuan’ lebih atau kurang. Dalam Ilyo, tubuh dan pikiran, jiwa dan substansi, saya dan anda bersatu. Cita-cita utama dari Tae Kwon Do dapat ditemukan di negara ini. Ini adalah disiplin di mana kami berkonsentrasi pada setiap gerakan meninggalkan semua pikiran materialistis, obsesi dan pengaruh eksternal.
Ada tujuh pedoman yang sangat penting untuk diperhatikan dalam mempelajari  poomse, pertama (1) adalah pelajari dulu satu poomse dengan baik baru melangkah untuk mempelajari yang berikutnya. Mengapa demikian? Karena kekurangsempurnaan melakukan poomse awal sangat mempengaruhi penguasaan kemampuan poomse selanjutnya. Selanjutnya, (2) gerakan dimulai dan berakhir pada titik atau posisi yang sama, (3) kontrol ditujukan pada penyaluran dan pengerahan tenaga secara benar, (4) perhatikan perbedaan kecepatan pada setiap gerakan, (5) setiap langkah harus di-lakukan dengan konstan, (6) pelajari dengan benar pengaturan napas dan teriakan, serta (7) lakukan setiap teknik gerakan setepat mungkin.
Demikian sekilas tentang Taekwondo yang dapat disampaikan, dan merupakan hasil upaya saya untuk mencoba merangkum dan mengambil intisari dari berbagai referensi yang ada dengan harapan nantinya dapat bermanfaat dan digunakan untuk meningkatkan kompetensi para taekwondoin umumnya dan khususnya kedua putera saya yang telah berhasil memeperoleh "sabuk hitam Dan I"  di tahun 2012 ini pada usuianya yang masih muda yakni M. Fadhil Mufid pada usia 12 Tahun dan M. Fikri Azhari pada usia 10 Tahun.
Bravo...My Son...
-----
Jakarta,   Juni 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar